e. Fedex dan Hiperrealitas Advertising.
Bukan waktunya buang uang untuk beriklan! Don’t trust advertising people! Advertising Agencies must re-think of their business! Kalimat itulah yang menjadi pembuka pandangan para marketer dunia. Pada awal tahun 2000, sejumlah buku bermunculan seperti ‘the end of advertising as we know it’, krangan Sergio Zyman, mantan CEO Coca Cola World Wide. Ada pula karya yang paling dibenci oleh banyak orang iklan berjudul, “The Fall of Advertising and the Rise of PR”, oleh Al Ries dan Laura Ries.
Pandangan para kritikus iklan dan advertising dunia memang cukup beralasan bila dikaji dengan fenomena realiatas global. Sejumlah pendapat miris tentang iklan yang dipasarkan melalui televisi telah mendapatkan jawaban dengan lahirnya TiVo, sebuah alat yang mampu membuat penonton menikmati program favoritnya tanpa diganggu iklan. Iklan yang semula dianggap sesuatu yang entertaining dan informatif, kini menjadi salah satu ‘musuh’ yang harus dihindari karena dianggap sebagai interuption (gangguan) kenikmatan bagi para penonton yang sedang menikmati sebuah film.
Hal ini tentu saja membuat biro iklan dan para klien mesti memikirkan kembali bagaimana pemasaran sebuah produk baru yang memerlukan promosi, ditengah tingkat rejection ( reaksi ) konsumen terhadap iklan begitu tinggi. Kelahiran Cast Away sebagai sebuah Film yang memunculkan aikon Fedex dalam setiap pemunculanya telah berhasil menjadi sebuah penanda baru dalam logika Advertesing dunia.
Pandangan Jean Baudrillard tentang Hiperrealitas seolah menjadi konsep penting untuk menjelaskan kehadiran Fed-Ex dalam Cast Away. Menurut Baudrillard, dunia saat ini memasuksi sebuah fenomena sosial, dimana manusia menganggap segala sesuatu yang dialaminya adalah sebuah kebenaran absolut. Padahal, hal itu sebenarnya adalah kebenaran semu (bukan objek) yang dibuat melalui simulasi simbol-simbol, kode-kode yang dicitrakan sedemikian rupa dari sebuah objek yang benar, kemudian dipadukan dengan ruang imajinatif sehingga membentuk stimuli kebenaran.
Cast Away menjadi penanda penting dari kemunculan Hiperrealitas dari logika advertising. Dengan pendekatan semiotika Roland Barthes melalui metode signifikansi dua tahapnya, Cast Away dipetakan menjadi dua bagian penting, yakni denotasi dan konotasi. Pada level denotasi, sebuah tanda ditangkap secara material, sedangkan pada levelan konotatif, sebuah tanda mengalami penelaahan secara sintagmatik maupun paradigmatik.
Cast Away secara denotative adalah sebuah cerita tentang seorang agen Fed-Ex bernama Chuck Noland, pegawai Fed-Ex dengan dedikasi tinggi terhadap pekerjaanya. Baginya, pekerjaan adalah segalanya, tak peduli apakah saat itu malam natal atau pergantian tahun. Manakala penyeranta berbunyi, pesannya tak bisa ditawar. Semboyan "we live to deliver", milik Federal Express, tak tergantikan dengan kata-kata "we live to work".
Bagi Chuck, FedEx adalah segalanya dan dengan alasan yang sama pula Chuck rela meninggalkan kekasihnya yang bernama Kelly pada malam natal yang mengantarkannya pada sebuah petualangan sunyi, terdampar di pulau tak berpenghuni, memaksa dirinya larut dalam perjuangan mempertahankan hidup.
Penjelasan secara denotative tentang sosok Chuck dan Fed-Ex tanpa sadar mengiring tangkapan penonton pada sebuah alur tentang Fed-Ex sebagai sebuah perusahaan jasa pengiriman yang tak bisa dilepaskan dengan sosok Chuck sebagai representasi dari para pekerja Fed-Ex.
Sosok Chuck merepresentasikan kerja keras, ketepatan waktu dan dedikasi yang tinggi pada pekerjaan. Bila Cast away dan Fed-Ex ditelaah secara paradigmatik maupun sintagmatik, akan ditemukan dua pola besar yang menjadi sistim penandaan dari Cast Away. Karakter Chuck merupakan representasi dari kode budaya masyarakat Amerika, dimana kerja keras dan dedikasi menjadi penanda sekaligus corak utama dari ruang kebudayaan. Sementara pada level paradigmatic, sebuah narasi besar diimajikan dalam bentuk hiperrealitas, bahwa Chuck dan jasa pengiriman Fed-Ex adalah sebuah alam nyata.
Proses Hiperrealitas dalam bentuk simulasi penandaan yang dilakukan dalam Film Cast Away, bila dianalisis sebenarnya ingin membentuk sebuah ruang simulacrum yang mengantarkan penonton pada stimuli advertesing dengan menciptakan Brand Equity dalam benak penonton.
Fed-Ex sebagai sebuah realitas dan Chuck dalam Cast Away merupakan imaji. Sebuah perpaduan yang sempurna dalam melahirkan sebuah metode pemasaran baru melalui metode Cinema Goers, dimana film merepresentasikan sebuah produk, ditengah rejection negative terhadap cara periklanan lewat televisi.
Perlawanan Fed-Ex dengan metode periklanan lewat film, nampaknya sudah mulai ditiru di Indonesia. Salah satunya dengan kemunculan Film D Bijis, yang mencoba merepresentasikan sebuah produk iklan rokok. Namun, Fed-Ex lewat Cast Away nampaknya belum dapat tertandingi dengan berhasilnya Tom Hanks menggeser bintang-bintang Hollywood berbobot seperti Mel Gibson, Nicolas Cage, Jim Carrey dan Sandra Bullock hinga mengantarkan Fed-Ex pada tangga Box Office.
Cast Away yang dibintangi Hanks dan Helen Hunt pada tahun 2005 mencapai penjualan karcis bioskop sebanyak US$ 40.5 juta di Negara Amerika Serikat dan Kanada. Pendapatan film ini melebihi film silat Crouching Tiger, Hidden Dragon arahan Ang Lee dan komedi What Women Want dengan bintang Mel Gibson.
Kesuksesan Cast Away meraup untung yang begitu besar dengan jumlah penonton yang berlimpah, tanpa sadar juga menjadi kesuksesan bagi Fed-Ex. Karena, melalui Cast Away benak penonton telah dilekatkan sebuah brand bahwa Cast Away dan Fed-Ex merupakan sebuah realitas yang satu.
Kamis, 21 Juni 2007
Rabu, 20 Juni 2007
Jumat, 15 Juni 2007
Sejarah Film sebuah Upaya melakukan Tinjauan Historis
Film dalam sejarahnya secara garis besar dibagi dalam dua masa perkembangan. Hal ini terjadi diakibatkan oleh meledaknya gejala film menjadi sebuah media komunikasi yang ternyata sangat mudah diterima dan ditangkap oleh sejumlah besar manusia.
Pada masa perkembangannya yang pertama, film dianggap sebagai kemajuan teknologi yang berangkat dari teknologi fotografi yang dikembangkan pada permulaan abad ke-19 yang dimulai oleh Joseph Niepce. Niepce berhasil melakukan eksperimen untuk memantapkan imaji alam pada tahun 1927. Saat yang sama teknologi rekaman suara berkembang lebih cepat setelah Thomas Alfa Edison berhasil menemukan fonograf pada tahun 1877. Kedua teknologi tersebut kemudian berpadu menjadi kinetograf. Penggabungan kedua teknologi ini dicetuskan oleh Thomas Alfa Edison tahun 1887. Edison kemudian memamerkan hasil usahanya tersebut pada sebuah pameran tanggal 6 Oktober 1889 berupa sebuah talkie (film bicara). Meski pada akhirnya alat temuan Edison tersebut lebih dikenal sebagai kinetophone (kinetoscope) tapi itulah awal dari perkembangan teknologi baru dari film. Kemajuan tersebut terus berlanjut sampai ditemukannya sistem penyimpanan hasil rekaman yang baku dari setiap pengambilan gambar oleh Louis dan Auguste Lumiere dari Perancis tahun 1895 yang berhasil melakukan pertunjukan film melalui proyeksi ke layar lebar. (Monaco,1977:235).
Kenyataannya baik kinetoscope Edison maupun Sinematograph Lumiere sudah cukup menjamin kemajuan film tahun-tahun berikutnya. Cara pembuatan dan pengedarannya telah mempengaruhi tipe film yang dibuat secara luas. Sampai sekarang ini bisa ditemui berbagai alternatif pilihan kamera yang sudah jauh lebih maju dan lebih rumit mulai dari sistem yang manual sampai digital. Sebagai dukungan kemajuan ini, alat eletronik visual untuk melihat hasil rekaman kamera juga berkembang pesat tidak lagi hanya pada layar putih sebagai medium tapi tingkat yang lebih tinggi seperti TV dalam berbagai ukuran dan video-player dalam bentuk kaset video, compact disc, laser disc, sampai ke digital video disc.
Sementara itu, pada perkembangan film kedua yang tergambar justru suatu struktur perkembangan yang rumit. Perkembangan ini diawali dari ketergantungan sejumlah penikmat seni yang menuntut kesegaran dan pelayanan yang memadai. Tantangan ini secara teknis dijawab oleh novel, film dan televisi secara bersama-sama. Masing-masing berakar sama yakni jurnalistik. Artinya saat itu, baik film, novel maupun televisi tetap menjadi medium perekam untuk perkembangan zaman sekaligus layanan bagi para penikmat. Hanya saja sampai sejauh ini film belum bisa lepas dari sejarah teknologinya yang terkadang menimbulkan dilema antara ketergantungan pada kesanggupan penikmat atau penonton atau kesanggupan teknologis. (Monaco,1981:234).
Sejarah pertunjukan film yang terbagi dalam zaman film bisu dan film bicara pada putaran kedua ini justru dianggap bukan lagi sebatas masalah teknologi tapi lebih pada pembedaan estetis (“sinema”) atau bahkan semata-mata tuntutan ekonomis (“movies”) untuk komoditas pertunjukan yang ternyata mempunyai banyak penikmat yang artinya punya nilai ekonomi yang menguntungkan
Pada masa perkembangannya yang pertama, film dianggap sebagai kemajuan teknologi yang berangkat dari teknologi fotografi yang dikembangkan pada permulaan abad ke-19 yang dimulai oleh Joseph Niepce. Niepce berhasil melakukan eksperimen untuk memantapkan imaji alam pada tahun 1927. Saat yang sama teknologi rekaman suara berkembang lebih cepat setelah Thomas Alfa Edison berhasil menemukan fonograf pada tahun 1877. Kedua teknologi tersebut kemudian berpadu menjadi kinetograf. Penggabungan kedua teknologi ini dicetuskan oleh Thomas Alfa Edison tahun 1887. Edison kemudian memamerkan hasil usahanya tersebut pada sebuah pameran tanggal 6 Oktober 1889 berupa sebuah talkie (film bicara). Meski pada akhirnya alat temuan Edison tersebut lebih dikenal sebagai kinetophone (kinetoscope) tapi itulah awal dari perkembangan teknologi baru dari film. Kemajuan tersebut terus berlanjut sampai ditemukannya sistem penyimpanan hasil rekaman yang baku dari setiap pengambilan gambar oleh Louis dan Auguste Lumiere dari Perancis tahun 1895 yang berhasil melakukan pertunjukan film melalui proyeksi ke layar lebar. (Monaco,1977:235).
Kenyataannya baik kinetoscope Edison maupun Sinematograph Lumiere sudah cukup menjamin kemajuan film tahun-tahun berikutnya. Cara pembuatan dan pengedarannya telah mempengaruhi tipe film yang dibuat secara luas. Sampai sekarang ini bisa ditemui berbagai alternatif pilihan kamera yang sudah jauh lebih maju dan lebih rumit mulai dari sistem yang manual sampai digital. Sebagai dukungan kemajuan ini, alat eletronik visual untuk melihat hasil rekaman kamera juga berkembang pesat tidak lagi hanya pada layar putih sebagai medium tapi tingkat yang lebih tinggi seperti TV dalam berbagai ukuran dan video-player dalam bentuk kaset video, compact disc, laser disc, sampai ke digital video disc.
Sementara itu, pada perkembangan film kedua yang tergambar justru suatu struktur perkembangan yang rumit. Perkembangan ini diawali dari ketergantungan sejumlah penikmat seni yang menuntut kesegaran dan pelayanan yang memadai. Tantangan ini secara teknis dijawab oleh novel, film dan televisi secara bersama-sama. Masing-masing berakar sama yakni jurnalistik. Artinya saat itu, baik film, novel maupun televisi tetap menjadi medium perekam untuk perkembangan zaman sekaligus layanan bagi para penikmat. Hanya saja sampai sejauh ini film belum bisa lepas dari sejarah teknologinya yang terkadang menimbulkan dilema antara ketergantungan pada kesanggupan penikmat atau penonton atau kesanggupan teknologis. (Monaco,1981:234).
Sejarah pertunjukan film yang terbagi dalam zaman film bisu dan film bicara pada putaran kedua ini justru dianggap bukan lagi sebatas masalah teknologi tapi lebih pada pembedaan estetis (“sinema”) atau bahkan semata-mata tuntutan ekonomis (“movies”) untuk komoditas pertunjukan yang ternyata mempunyai banyak penikmat yang artinya punya nilai ekonomi yang menguntungkan
Beberapa Tips Penyusunan Skripsi
Banyak orang yang mengalami kesulitan dalam menyusun sebuah skripsi cuman karena mereka tidak tahu bagaimana mesti memulai?
1. Susunlah sebuah gagasan anda dalam sebuah kertas
ini menjadi penting agar gagasan tentang skripsi anda membentuk sebuah alur yang jelas.
2. Identifikasi kemampuan
Jangan pernah memaksakan diri anda mengambil judul yang sulit sementara anda tak mengerti
3. Mulailah mencari referensi dari topik yang anda angkat.
4. Temukan intisari dari penelitian anda.
5. Mulai tulis gagasasan anda sekarang juga, karena menunda sama artinya anda sedang memperburuk kondisi anda sendiri.
Bersambung...
1. Susunlah sebuah gagasan anda dalam sebuah kertas
ini menjadi penting agar gagasan tentang skripsi anda membentuk sebuah alur yang jelas.
2. Identifikasi kemampuan
Jangan pernah memaksakan diri anda mengambil judul yang sulit sementara anda tak mengerti
3. Mulailah mencari referensi dari topik yang anda angkat.
4. Temukan intisari dari penelitian anda.
5. Mulai tulis gagasasan anda sekarang juga, karena menunda sama artinya anda sedang memperburuk kondisi anda sendiri.
Bersambung...
Kamis, 14 Juni 2007
Tafsir Semiotika Naga Bonar
Naga Bonar kembali hidup setelah sekian lama mati, kini ia muncul kembali dengan kondisi yang begitu berbeda pada era 90-an. Naga bonar yang kala itu digarap oleh seorang Asrul Sani, kini menemukan penanda yang berbeda ditangan Dedy Mizwar. Bila masa asrul sani naga bonar hadir dengan spirit nasionalisme yang dibingkai apik dalam sosio historis perjuangan kemerdekaan, kini naga bonar hidup dalam penanda yang berbeda. Sebuah penanda yang muncul dari potret zaman post modernisme. Tak ada lagi desing peluru atau dealek belanda yang sedang marah. Kini nagabonar muncul sebagai seorang yang terasing dari negrinya sendiri. Prolog Film ini begitu menampkan hal itu. Ketika naga bonar yang renda datang bersama anaknya Baunaga ke Jakarta, kala itu jenderal lubuk pakam mencari wajah presiden, namun tak ada yang ditemukannya, bahkan anaknya sendiri ogah untuk memperlihatkan wajah presidennya, parahnya lagi ketika nagabonar menanyakan sebuah gabar besar ber otot ( ade Rai ) sebagai mentri olah raga. Sang anak dengan enteng menjawab "iya".....
Butuh Informasi tentang wacana Komunikasi kontemporer ?
Beberapa tawaran wacana yang bisa kita diskusikan lewat Imel :
Beberapa studi yang pernah kami lakukan.
1. Studi Survei Politik
2. Studi Khayak
3. Studi Media Massa ( Analisis Pemberitaan Media)
4. Studi Efektifitas Komunikasi Politik
5. Efektifitas Humas pemerintah daerah.
Kalau berminat bekerja sama dengan kami imel kami terus terbuka sebagai ajang shering bagi kita semua.
Atau kalau anda memiliki bahan skripsi komunikasi yang anda mengalami kesulitan kami siap menjadi konsultan anda.
terima kasih
Pengelola....
- Analisis Wacana
- Analisis Teks Media
- Film
- Semiotika
- Analisis Freming
- Studi kontemporer Public Relations
Beberapa studi yang pernah kami lakukan.
1. Studi Survei Politik
2. Studi Khayak
3. Studi Media Massa ( Analisis Pemberitaan Media)
4. Studi Efektifitas Komunikasi Politik
5. Efektifitas Humas pemerintah daerah.
Kalau berminat bekerja sama dengan kami imel kami terus terbuka sebagai ajang shering bagi kita semua.
Atau kalau anda memiliki bahan skripsi komunikasi yang anda mengalami kesulitan kami siap menjadi konsultan anda.
terima kasih
Pengelola....
situs ini digunakan sebagai tempat diskusi dan wacana kontemporer komunikasi!!!
Selamat datang di sebuah tempat dimana kalian mau berdiskusi atau mengkaji Ilmu Komunikasi, termasuk untuk kebutuhan studi dan tugas- tugas penting komunikasi
Langganan:
Postingan (Atom)