Film dalam sejarahnya secara garis besar dibagi dalam dua masa perkembangan. Hal ini terjadi diakibatkan oleh meledaknya gejala film menjadi sebuah media komunikasi yang ternyata sangat mudah diterima dan ditangkap oleh sejumlah besar manusia.
Pada masa perkembangannya yang pertama, film dianggap sebagai kemajuan teknologi yang berangkat dari teknologi fotografi yang dikembangkan pada permulaan abad ke-19 yang dimulai oleh Joseph Niepce. Niepce berhasil melakukan eksperimen untuk memantapkan imaji alam pada tahun 1927. Saat yang sama teknologi rekaman suara berkembang lebih cepat setelah Thomas Alfa Edison berhasil menemukan fonograf pada tahun 1877. Kedua teknologi tersebut kemudian berpadu menjadi kinetograf. Penggabungan kedua teknologi ini dicetuskan oleh Thomas Alfa Edison tahun 1887. Edison kemudian memamerkan hasil usahanya tersebut pada sebuah pameran tanggal 6 Oktober 1889 berupa sebuah talkie (film bicara). Meski pada akhirnya alat temuan Edison tersebut lebih dikenal sebagai kinetophone (kinetoscope) tapi itulah awal dari perkembangan teknologi baru dari film. Kemajuan tersebut terus berlanjut sampai ditemukannya sistem penyimpanan hasil rekaman yang baku dari setiap pengambilan gambar oleh Louis dan Auguste Lumiere dari Perancis tahun 1895 yang berhasil melakukan pertunjukan film melalui proyeksi ke layar lebar. (Monaco,1977:235).
Kenyataannya baik kinetoscope Edison maupun Sinematograph Lumiere sudah cukup menjamin kemajuan film tahun-tahun berikutnya. Cara pembuatan dan pengedarannya telah mempengaruhi tipe film yang dibuat secara luas. Sampai sekarang ini bisa ditemui berbagai alternatif pilihan kamera yang sudah jauh lebih maju dan lebih rumit mulai dari sistem yang manual sampai digital. Sebagai dukungan kemajuan ini, alat eletronik visual untuk melihat hasil rekaman kamera juga berkembang pesat tidak lagi hanya pada layar putih sebagai medium tapi tingkat yang lebih tinggi seperti TV dalam berbagai ukuran dan video-player dalam bentuk kaset video, compact disc, laser disc, sampai ke digital video disc.
Sementara itu, pada perkembangan film kedua yang tergambar justru suatu struktur perkembangan yang rumit. Perkembangan ini diawali dari ketergantungan sejumlah penikmat seni yang menuntut kesegaran dan pelayanan yang memadai. Tantangan ini secara teknis dijawab oleh novel, film dan televisi secara bersama-sama. Masing-masing berakar sama yakni jurnalistik. Artinya saat itu, baik film, novel maupun televisi tetap menjadi medium perekam untuk perkembangan zaman sekaligus layanan bagi para penikmat. Hanya saja sampai sejauh ini film belum bisa lepas dari sejarah teknologinya yang terkadang menimbulkan dilema antara ketergantungan pada kesanggupan penikmat atau penonton atau kesanggupan teknologis. (Monaco,1981:234).
Sejarah pertunjukan film yang terbagi dalam zaman film bisu dan film bicara pada putaran kedua ini justru dianggap bukan lagi sebatas masalah teknologi tapi lebih pada pembedaan estetis (“sinema”) atau bahkan semata-mata tuntutan ekonomis (“movies”) untuk komoditas pertunjukan yang ternyata mempunyai banyak penikmat yang artinya punya nilai ekonomi yang menguntungkan
Jumat, 15 Juni 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar