Kamis, 14 Juni 2007

Tafsir Semiotika Naga Bonar

Naga Bonar kembali hidup setelah sekian lama mati, kini ia muncul kembali dengan kondisi yang begitu berbeda pada era 90-an. Naga bonar yang kala itu digarap oleh seorang Asrul Sani, kini menemukan penanda yang berbeda ditangan Dedy Mizwar. Bila masa asrul sani naga bonar hadir dengan spirit nasionalisme yang dibingkai apik dalam sosio historis perjuangan kemerdekaan, kini naga bonar hidup dalam penanda yang berbeda. Sebuah penanda yang muncul dari potret zaman post modernisme. Tak ada lagi desing peluru atau dealek belanda yang sedang marah. Kini nagabonar muncul sebagai seorang yang terasing dari negrinya sendiri. Prolog Film ini begitu menampkan hal itu. Ketika naga bonar yang renda datang bersama anaknya Baunaga ke Jakarta, kala itu jenderal lubuk pakam mencari wajah presiden, namun tak ada yang ditemukannya, bahkan anaknya sendiri ogah untuk memperlihatkan wajah presidennya, parahnya lagi ketika nagabonar menanyakan sebuah gabar besar ber otot ( ade Rai ) sebagai mentri olah raga. Sang anak dengan enteng menjawab "iya".....

Tidak ada komentar: