Menguak Identitas Kota Membaca Palu dalam Semiotik
Persoalan besar manusia abad moderen adalah amnesia atas tanda semesta
( Marthin Hedeger)
Kota adalah Imajinasi! Bentuk dan corak sebuah kota merupakan hasil dari mimpi-mimpi besar peradaban yang lahir dari denyut kultural masyarakat. Sebuah kota senantiasa menyimpan sejarah, kenangan, nostaligia, identitas sekaligus utopia. Pergerakan dan pertumbuhan sebuah kota bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja namun merupakan hasil keputusan masyarakat secara historis terhadap kota itu.Setiap kota senantiasa memiliki makna budaya sekaligus tabir sosial. Kelahiran sebuah kota bukanlah sesuatu yang beku dan statis melainkan terbentuk oleh hubungan-hubungan sosial yang senantiasa berubah. Ungkapan menarik pernah di ungkapkan oleh Micel Foucauld “seluruh sejarah peradaban masih menunggu untuk di tulis”.
Identitas sebuah kota merupakan produk budaya yang lahir dari penerjemahan nilai- nilai lokal masyarakat. Misalnya saja Jakarta sebagai Ibu Kota Negara yang menjadi ikon dari metropolitan dan perlambang dari kosmopolitanisme masyarakat, Jogjakarta sebagai kota pelajar dan budaya telah membentuk penanda alamiah kota dengan identitas istimewa kejayaan keraton kesultanan masa lalu, Makassar sebagai Kota dengan konsep masyarakat maritim yang terkenal dengan Branding Makassar Great Expectation yang ingin mencitrakan sebagai daerah yang dilandasi peradaban, etika, dan norma yang tumbuh dan berkembang secara terus menerus.Membicarakan sebuah kota berarti membicarakan ruang sosial yang penuh dinamisasi dan ragam interpretasi oleh para interpretant ( penerjemah).
Jika kota dapat kita pahami sebagai ruang sosial yang senantiasa dinamis maka proses perubahan dalam sebuah kota dapat pula diasumsikan sebagai pergerakan relasi-relasi masyarakat. Pandangan inilah yang dalam Simiotika disebut tanda dan penanda. Setiap Tanda pastilah menyusun Penanda sebagai bentuk relasi dari tanda. Membicarakan Kota Palu pastilah tak dapat dilepaskan dari pegunungan yang menjulang, lembah yang menawan, panorama teluk dan etnis kaili sebagai penanda entitas suku yang bermukim di kota ini.
Dalam semiotika, tafsir kota diubah menjadi sebuah narasi teks yang unik yang memiliki dua relasi yakni Denotatif maupun Konotatif. Pemaknaan Denotatif oleh Roland Barthes adalah sebuah penampakan material sedangkan konotatif merupakan identifikasi budaya dan konsep paradigmatik masyarakatnya.
Palu dalam Sejarah sebuah Upaya Melawan Lupa
Membincangkan kota palu tak dapat dilepas pisahkan dari kondisi sosial dan latar belakang historis kota ini. Kota yang kini dimukimi 304.203 jiwa ini pada awalnya terbagi atas tiga landscap Afdeling ( wilayah kekuasaan) belanda yakni Landschap Distrik Palu Timur, Distrik Palu Tengah dan Distrik Palu Barat, Landschap Kulawi serta Landschap Sigi Dolo.
Lahirnya Undang-Undang Nomor 44 tahun 1950 menetapkan Wilayah Daerah Sulawesi Tengah dengan Ibukota Poso sedang Palu berposisi sebagai tempat kedudukan Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) setingkat Wedana. Tahunpun berganti ketika priode tahun 1957 status Kota Palu berubah menjadi Ibukota Keresidenan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah ketika UU Nomor 13 tahun 1964 dikuarkan.
Tahun 1978 melalui PP nomor 18 Kota Palu ditetapkan menjadi Kota Administratif dan selanjutnya melalui UU Nomor 4 tahun 1994 berubah status menjadi Kotamadya Dati II Palu dengan Wilayah Kota Administratif Palu dan sebagian Wilayah Kecamatan Tavaili. Perubahan yang terjadi telah menempa kota ini menjadi kota mandiri dengan beberapa priodesasi sejarah. Secara Semiotik Priodesasi dan perubahan status telah mewarnai pertumbuhan dan gerak dinamisasi masyarakat. Perubahan status sebuah ruang sosial dalam dimensi masyarakat yang berbeda pastilah menyisakan dua ranah simbolisasi. Pertama sebagai Ibu Kota pemerintahan Sulawesi Tengah, palu menjadi simbolisasi aikonik representase perwajahan Sulawesi Tengah. Kedua sebagai sentrum pusat pemerintahan maka palu memiliki relasi sebagai ruang yang sarat akan dimensi geopolitik.
Menguak Tabir Identitas Palu dalam Orkestra Rusdi Mastura
Membicarakan Identitas sebuah kawasan, negara, maupun kota tidak dapat dilepaspisahkan dengan peran yang ingin diambil wilayah tersebut. Untuk kawasan Asia Pasifik pada akhir abad 20 sampai milenium ketiga ini memunculkan sebuah fenomena istimewa yang dalam Semiotika Kota disebutkan Signifiying Code. Gejala pertama adalah munculnya upaya pengabungan subtitusi ekonomi antara kota-kota kecil dengan kota pusat pemerintahan di sekitarnya. Wilayah kekotaan besar yang dikenal dengan istilah extended metropolitan region ( EMR) yang menjadi inisiasi terbentuknya mega city. Contoh yang bisa dikemukakan adalah klang Valey Corridor yang mengabungkan Kuala Lumpur, Shah Alam dan Klang. Jabotabek yang menunjukan bergabungnya Jakarta, Bogor, Tangerang dan bekasi. Gambaran lainya dapat pula kita temukan Manila-Quezon di filipina. Osaka-kobe di jepang atau Beijing – Tianjin- Hongkong –Gungzho di Cina.Gejala kedua adalah terjadinya Internasionalisasi kota-kota kecil seiring dengan makin tingginya intensitas hubungan global kota-kota besar. Gejala ketiga adalah meningkatnya peran kota pantai sebagai katalisator modernisasi dan pembangunan. Sedangkan gejala ke empat adalah munculnya upaya pengabungan kota-kota antar negara dalam bentuk segitiga pertumbuhan ( growth triangle). Perubahan konsep kota akibat Globalisasi merupakan sesuatu yang teramat sulit untuk di tolak, pertumbuhan sektor produksi baru telah membuat kota kecil membangun relasi ekonomi secara langsung pada para pemilik alat produksi yang menyebabkan terbentuknya internasionalisasi produksi.
Membaca kota palu dalam hari jadinya ke 29 tahun 2007 ini membawa kita pada sebuah penanda tentang sebuah peran yang coba dimainkan oleh seorang walikota yang senantiasa menyebut dirinya sebagai direjen? Peran yang melalui pemaknaan denotatif dapat dilihat dari rumusan Visnya tentang arah perkembangan ” Kota Palu sebagai Pusat Industri dan Perdangan Kakao Sulawesi Tengah dan Sentra Industri Rotan Nasional 2010”. Bergerak lewat visi pemerintah kota palu ini kita bisa menarik sebuah pemaknaan akan Identitas kota palu secara konotatif. Identitas sebuah kota yang akan menjadi simpul distribusi dan perdangangan komoditi kakao dari daerah hinderland yang mendorong pertumbuhan bagi beberapa kota yang menjadi penyanga komoditi. Efek besar dari Identitas ini adalah terciptanya lapangan kerja baru, tumbuh dan berkembangnya masyarakat di sekitar area idustri serta tumbuhnya Industri turunan yang akan mendorong peningkatan pendapatan masyarakat yang bukan hanya terjadi secara sektoral namun memberikan efek dari hulu hingga hilir. Orkestra ini sedang dimainkan melalui sebuah lantunan mimpi dan kerja yang tertatih. Sebuah orkestra adalah perpaduan antara berbagai alat musik yang kemudian dipandu oleh sang direjen yang menjadi penata nada. Lantunan nada arahan sang orkestra melalui identitas yang coba digagas lewat sejumlah kode akan lahirnya Kawasan Industri, Sekolah kerja Rotan ataupun penandatanganan Mou merupakan sebuah anak tangga menuju pintu perdaban NorthenGate Indonesia.
Rabu, 24 Oktober 2007
Jumat, 19 Oktober 2007
Jendela-jendela skripsi Komunikasi
A.Beberapa tawaran studi komunikasi
a. Film
- Nagbonar dan Nasionalisme yang kesepian ( sebuah Studi Semiotika )
- Analisis Jender Film berbagi Suami ( analisis Wacana Kritis)
- Pertarungan Kode Budaya dalam Film ada apa dengan Cinta ( Analisis Semiotika)
- Analisis Freming keberpihakan politik Nasional jawa post grup ( Analisis freming)
b. Analisis PR
- Sterategi PR Pro XL dalam merebut Pasar
- Sterategi PR Indosat
- Efektifitas peran PR Pemda Daerah
a. Film
- Nagbonar dan Nasionalisme yang kesepian ( sebuah Studi Semiotika )
- Analisis Jender Film berbagi Suami ( analisis Wacana Kritis)
- Pertarungan Kode Budaya dalam Film ada apa dengan Cinta ( Analisis Semiotika)
- Analisis Freming keberpihakan politik Nasional jawa post grup ( Analisis freming)
b. Analisis PR
- Sterategi PR Pro XL dalam merebut Pasar
- Sterategi PR Indosat
- Efektifitas peran PR Pemda Daerah
Jendela-jendela skripsi Komunikasi
Berikut beberapa Tawaran Judul Skripsi Komunikasi:
A. Studi Film :
1. Nagabonar dan Nasionanalisme yang kesepian
A. Studi Film :
1. Nagabonar dan Nasionanalisme yang kesepian
Langganan:
Postingan (Atom)